SINOPSIS ITAEWON CLASS EPISODE 1
By
Putri Alvita
sumber gambar : asianwiki.com
Jo Yi Seo (Kim Dami) menemui psikolog untuk melakukan
konseling. Mereka berbincang mengenai keresahan yang dirasakannya, yaitu
tentang makna kehidupan. Bahkan setiap malam, ia selalu berfikir agar dunia ini
segera berakhir dan hal itu mungkin terdengar gila. Jo Yi Seo mengungkapkan
bahwa hidup itu sangat melelahkan. Ritme kehidupan semua orang selalu repetitif
dan bisa ditebak. Belajar yang rajin untuk masuk ke universitas yang bagus,
bekerja dengan giat, bertemu seseorang yang baik dan menikah, berusaha...,
berusaha..., lagi dan lagi. Semua itu sangat melelahkan. Jo Yi Seo juga
menyampaikan bahwa ia ia pernah mengatakan hal yang sama kepada bosnya, Park
Sae Ro Yi. Ia terkesan dengan jawaban sang bos. Katanya, “Jika hidup itu sangat
melelahkan, mati saja.” Hal tersebut memang
terdengar ketus, namun begitulah jawaban yang diinginkan Jo Yi Seo. Sebuah pembicaraan
jujur dan apa adanya, meski ia tidak berfikir untuk melakukannya.
Konseling selesai, sebelum meninggalkan ruangan, ia
memberikan kupon kedainya kepada psikolog.
---
“Ibu Kota Korea Selatan, Seoul. Di pusat kota Seoul, ada
daerah bernama Yong San. Dan kata kunci paling nge-trendnya adalah..., Itaewon.
Rata-rata biaya sewanya lebih dari 200 juta won yang merupakan termahal ketiga
di kota Seoul.
Di jalan kecil ini, dunia bisa terlihat. Menjalani hidup
dengan aturan dan prinsip masing-masing.
Kehidupan di jalan ini, inilah kisah hidup kami.”
---
Cerita kembali ke masa lalu saat Park Sae Ro Yi (Park Seo
Joon) masih sekolah tingkat atas. Ia adalah seorang siswa pendiam yang sangat
memegang teguh prinsipnya untuk tidak mengikuti kelas tambahan meski dimarahi
setiap hari. Selama tiga tahun bersekolah, ia tidak punya teman sama sekali.
Meski begitu, ia tidak pernah terlihat kesepian. Dia akan segera pindah sekolah
bersamaan dengan ayahnya yang juga dipindah tugaskan oleh perusahaan. Di hari-hari
terakhirnya, seorang teman perempuan mengungkapkan perasaan padanya dengan
memberi sebuah kado. Namun sayang, Park Sae Ro Yi hanya meninggalkannya begitu
saja.
Park Sae Ro Yi bercita-cita menjadi polisi. Ia bersiap
untuk menghadapi tes masuk akademi kepolisian. Dalam perjalanannya di stasiun,
ia bertemu dengan Oh Soo Ah (Kwon Nara) untuk pertama kali. Park Sae Ro Yi
melihat seorang pengemis yang meminta bantuan kepada Oh Soo Ah, namun wanita
itu menepisnya dengan kasar hingga terjatuh. Park SaE Ro Yi menolongnya berdiri
dan bertanya apakah pengemis itu baik-baik saja. Ia jengkel melihat perilaku Oh
Soo Ah dan mengejarnya untuk menuntut permintaan maaf, namun ia malah diserang
balik dengan kata-kata ketus dari Oh Soo Ah.
Dalam tes kepolisian
yang dilakukannya, Park Sae Ro Yi melakukannya dengan totalitas. Meski kakinya
sedang cedera, ia tetap berusaha berlari dengan semangat dan tidak memedulikan
rasa sakitnya.
Park Bu Jang (Son Hyun Joo), ayah Park Sae Ro Yi adalah
pegawai di Jang-Ga, sebuah perusahaan makanan terbesar di Korea. Ia merasa syok
ketika mendengar bahwa perusahaan akan berhenti membiayai panti asuhan dimana
dialah yang selama ini menjadi penanggung jawabnya. Perusahaan hanya memikirkan
bisnis dan memberikan bantuan hanya untuk menarik perhatian masyarakat. Namun
katanya masyarakat tidak tertarik lagi dengan panti asuhan sehingga mereka akan
menghentikan bantuan.
Salah satu penghuni panti asuhan itu adalah gadis ketus
yang ditemui Park Sae Ro Yi di stasiun, Oh Soo Ah. Ternyata ayah Park Sae Ro Yi
berhubungan dekat dengan gadis itu. Dia ikut bersama ayahnya datang ke panti
asuhan untuk mengantar bantuan terakhir dan menyampaikan permintaan maaf. Dalam
kesempatan itu, Park Sae Ro Yi dan Oh Soo Ah berbincang satu sama lain namun
tetap tidak merasa cocok karena perbedaan kepribadian.
---
Park Sae Ro Yi masuk ke sekolah barunya dan memperkenalkan
diri di depan teman-teman sekelas. Kebetulan, dia satu kelas dengan Oh Soo Ah
dan Jang Geun Won, anak dari pemilik Jang-Ga. Di hari pertamanya sekolah, ia
melihat tindak pembullyan di kelas yang dilakukan oleh Jang Geun Won (Ahn Bo
Hyun). Namun tidak ada yang mempedulikannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Park
Sae Ro Yi pun berniat untuk menolong, namun Oh Soo Ah menahannya dengan
menyampaikan bahwa Jang Geun Won adalah pewaris Jang-Ga dan mengingatkan untuk
tidak ikut campur, dia bisa kena masalah. Namun Park Sae Ro Yi tidak peduli, ia
tetap berdiri membela si korban. Bukannya segan, Jang Geun Won malah semakin
menjadi-jadi dan membuat Park Sae Ro Yi kesal. Wali kelas masuk dan melihat
kejadian tersebut dengan jelas, namun sama seperti yang lain, ia berlagak tidak
tahu dan menganggapnya bukan masalah besar. Park Sae Ro Yi tidak percaya dengan
ketidak adilan yang disaksikannya. Sementara
itu Jang Geun Won semakin memanas-manasinya dan membuat Park Sae Ro Yi
kehilangan kesabaran dan memukul pria sombong itu.
Park Sae Ro Yi bersama ayahnya dipanggil oleh pemilik Jang-Ga,
Jang Dae Hae (Yoo Jae Myung), ke dalam ruangan.
Ia meuntut Park Sae Park Sae Ro
Yi untuk meminta maaf dan berlutut kepada anaknya. Namun Park Sae Ro Yi tidak
merasa bersalah dan merasa tidak pantas untuk melakukan hal tersebut di depan
mereka. Ayahnya pun terkejut mendengar permintaan terburuk yang sangat menginjak-injak
harga diri sang anak. Park Sae Ro Yi menjelaskan bahwa Jang Geun Won lah yang salah
karena membully orang lain, ia hanya melakukan pembelaan. Ia pun semakin marah
karena orang-orang menutup mata melihat kejahatan hanya karena pelakunya orang
kaya. Dia memilih untuk mendapatkan hukuman dari sekolah daripada mengakui
perbuatan yang tidak dilakukannya. Ia memegang prinsip dengan teguh dan ingin
terus hidup bersama prinsip itu. Sang ayah yang melihat keteguhan anaknya itu
merasa sangat kagum. Pada akhirnya Park Sae Ro Yi dengan tidak adil dikeluarkan
dari sekolah, begitu pula sang ayah juga ikut dipecat dari pekerjaannya.
Park Bu Jang mengajak Park Sae Ro Yi untuk minum-minum. Dia
mengingatkan bahwa apapun alasannya kekerasan itu tidak dibenarkan dan dia bangga
terhadap anaknya yang memegang teguh prinsip hidup di dadanya. Saat itulah Park
Bu Jang mengajarkan Sae Ro Yi menikmati alkohol untuk pertama kali. “Bagaimana
rasanya?” tanya Park Bu Jang. “Pahit,” jawab Sae Ro Yi, lalu ia pun menangis.
---
Pagi hari yang cerah, Oh Soo Ah bersiap untuk mengikuti
wawancara kuliah. Beruntung Park Bu Jang memberinya pinjaman uang untuk kuliah
dan memintanya mengganti dengan kesuksesannya. Saat hendak masuk bus, sayang, Soo
Ah baru menyadari kalau kartu pesertanya tertinggal. Ia kembali mengambilnya,
namun tidak punya cukup waktu untuk menunggu bus lagi, gadis itu pun memutuskan
untuk berlari menuju tempat tes yang jaraknya cukup jauh. Park Sae Ro Yi menghampirinya
dan bertanya-tanya. Melihat ketekunan Soo Ah, ia pun ikut menemani dan
menyemangatinya sepanjang perjalanan hingga akhirnya ia sampai dan bisa
mengikuti tes wawancara.
Park Sae Ro Yi menunggu Soo Ah menyelesaikan tes wawancara.
Mereka pulang dan mampir untuk berbincang-bincang di pinggir sungai saat senja.
Park Sae Ro Yi mengungkapkan bahwa kini ia mengerti kenapa Soo Ah bersikap kasar
kepada pengemis saat pertemuan pertama mereka beberapa waktu lalu, itu semua
karena dia sedang kacau. Menurut Soo Ah, bersimpati itu adalah kata lain dari
meremehkan, makanya dia tidak suka membantu ataupun dibantu. Secara tidak
langsung, mereka sudah berbaikan di senja itu.
---
Park Sae Ro Yi dan ayahnya sibuk bersiap-siap membuka kedai
mereka, memulai kehidupan yang baru. Malamnya, Park Sae Ro Yi menunggu ayahnya
pulang dari membeli bahan-bahan di pasar. Namun tidak disangka, dalam perjalanan
pulang, motor yang dikendarai Park Bu Jang ditabrak dari belakang oleh sebuah
mobil dengan kencang. Ia terjatuh dari motor dan teruling-guling ke dalam
jurang. Hingga di akhir hayatnya pun, Park Bu Jang hanya memikirkan sang anak.
Sementara itu, Park Sae Ro Yi terus menunggu dan menyadari,
“Malam hari itu..., ayah tidak pulang.”
Park Sae Ro Yi merasa sangat terpukul atas kematian sang
ayah, padahal dia adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Ia tidak makan
dan tidur berhari-hari. Oh Soo Ah terus menemaninya di masa-masa itu. Kemudian
detektif datang ke rumah duka dan menyampaikan bahwa pelakunya telah menyerahkan
diri dan memberi ganti rugi. Sae Ro Yi marah karena nyawa ayahnya seakan
digantikan dengan uang. Ia melempar dokumen-dokumen yang diberikan dan terjatuh
sebab kepalanya semakin pusing.
Oh Soo Ah membereskan dokumen-dokumen dari detektif dan
menyadari ada yang aneh. Ia mengenal mobil pelaku yang ada di dalam foto. Itu
milik Jang Geun Won, mobil limited edition yang memiliki plat spesial, 777.
Jang Geun Won pernah memamerkan padanya. Ia sangat yakin. Mengetahui hal itu,
Park Sae Ro Yi pun terbakar. Ia meminta Soo Ah menggantikan posisinya di rumah
duka sementara ia pergi mencari si bedebah itu.
Di tengah hujan lebat di malam hari, Park Sae Ro Yi tiba di
rumah sakit tempat Jang Geun Won dirawat. Dalam perjalanannya, ia terus
membayangkan wajah sang ayah yang selama ini berkorban untuknya. Jang Geun Won sedang
di taman rumah sakit ketika Sae Ro Yi berjalan menujunya. Jang Geun Won langsung
ketakutan dan berlari menghindar, namun sayangnya ia terjatuh. Melihat tingkah
anehnya, Park Sae Ro Yi menjadi semakin yakin bahwa lelaki itulah yang telah
membunuh ayahnya. Park Sae Ro Yi segera memukul Jang Geun Won bertubi-tubi
sambil menangis dan marah-marah. Sementara itu Jang Geun Won terus berusaha
menghindar dan menyeret-nyeret tubuhnya. Jang Geun Won menangis dan memohon maaf.
“Sudah terlambat. Orang yang seharusnya menerima
permintaan maafmu...,
sudah meninggal.”
Air mata Park Sae Ro Yi menetes dan melebur bersama hujan
lebat yang membasahi seluruh tubuhnya. Di luar dingin, namun darahnya serasa
mendidih hingga ke ubun-ubun saking marahnya. Tidak ada kesabaran lagi, tak
tertahankan lagi. Park Sae Ro Yi melemparkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi
ke wajah, kaki, perut, dan seluruh tubuh Jang Geun Won hingga berlumuran darah.
Akalnya sudah tidak bisa berfikir jernih. Dirinya sepenuhnya dikuasai oleh
emosi yang membara. Ia mengambil sebuah batu dan menggenggamnya erat. Matanya fokus tertuju pada kepala Jang Geun
Won. Ia mengangkat batu tersebut dan
berteriak kencang, “MATI KAU, BAJINGAN!!!!!!!!”
Bersambung ke episode 2 .........

Komentar
Posting Komentar