Challenge Myself |My 3-Days Social Media Detox

 

Di zaman modern yang serba canggih dan teknologi berkembang pesat saat sekarang ini, membuat tangan kita jadi nggak bisa lepas dari smartphone. Entah itu hal yang penting atau tidak, sosial media selalu menjadi prioritas bagi generasi muda. Baik sejak bangun tidur, hingga tidur lagi. Kita tidak bisa membuat kesimpulan tentang apakah sosial media itu memberi pengaruh positif ataupun negatif, karea dia hanyalah alat, tergantung bagaimana orang-orang memfungsikannya. Sosial media dipandang positif apabila digunakan untuk menyebarluaskan informasi (yang faktual), menjalin silaturahim dengan orang-orang yang jauh, mempermudah penyebaran ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Namun sebaliknya, akan menjadi bumerang apabila ternyata sosial media malah dijadikan sebagai tempat untuk penyebaran hoax, mengadu domba, mengalihkan fokus, apalagi sampai membuat kecanduan.
Bicara tentang kecanduan sosial media, generasi muda saat ini bisa dikatakan -setidaknya sebagian besar mengalami gejalanya. Bahkan banyak pula yang sudah sampai pada tahap kronis. Jika hal ini sudah menyerang diri kita, maka akan muncul dampak negatif, seperti kehilangan konsentrasi, gangguan tidur, stres, lelah berlebihan, dan depresi. Jika kita tidak ingin hal itu terjadi, maka kita perlu melakukan suatu upaya, salah satunya yaitu social media detox.
Social media detox atau detoks media sosial diartikan sebagai berhenti sejenak menggunakan seluruh media sosial dalam jangka waktu tertentu untuk menjalani kehidupan di dunia nyata dengan lebih positif. Nah, setelah tahu tentang hal ini, aku lalu ingin mempraktekkannya. Meski selama ini aku tidak merasa terlalu berlebihan dalam menggunakan sosial media, tapi kufikir ini hal yang baik untuk dicoba. Apalagi aku harus mengikuti Training Center MFQ selama 4 hari. Di sana tidak dilarang untuk menggunakan HP, tapi aku merasa perlu melakukan detoks sosial media agar bisa fokus menjalani pelatihan.

Day 1 :

Hal pertama yang kulakukan adalah memberitahukan kepada orang-orang bahwa akan melakukan detoks sosial media dalam beberapa hari ke depan lewat story dan mengubah status menjadi ‘OFF’. Setelah itu aku menonaktifkan data seluler, and then..., let’s begin!
O iya, jangan lupa untuk menuntaskan seluruh urusan kalian di sosial media sebelum memulai.
Ini tidak terlalu sulit karena sebelumnya aku sudah melakukan tahap awal, yaitu meng-unfollow akun-akun yang tidak terlalu penting di instagram, dan hanya mengikuti sedikit orang saja. Aku juga me-mute status Whats Up semua kontakku. Jadi, itu semacam pemanasan sebelum benar-benar meninggalkannya.
Seharian aku fokus pada proses latihan bersama pelatih, menghafal, muraja’ah, dan ketika suntuk, aku sudah menyiapkan sebuah novel untuk kubaca.

Day 2 :

Aku mulai merasa bosan, ingin melihat sesuatu di instagram. Sempat menghidupkan data seluler sejenak, mungkin karena godaaan syetan, tapi aku segera mematikannya kembali dan membuang ponselku jauh-jauh.
Hidup memang penuh dengan cobaan. Tapi kita harus ingat, meski tantangan itu sulit, bukan berarti tidak bisa ditaklukkan. Kita harus punya kontrol diri yang kuat. Dan ini adalah kemampuan yang harus dimiliki setiap orang untuk mencapai tujuannya. Karena garis finish itu tidak berlari ke arah kita, melainkan kitalah yang mengejarnya.
Meski tantangan itu sulit, bukan berarti tidak bisa ditaklukkan.

Day 3 :

Novelku sudah habis kubaca, bahkan sampai pada biodata penulisnya. Kami hanya latihan bersama ustadz jam 9.00 WIB sampai 11.30 WIB, dan setelah Isya’ hingga jam 10 malam. Tersisa 8 jam kosong. Berbagai macam cara kulakukan untuk menghilangkan kebosanan menunggu matahari terbenam. Mulai dari makan, tidur siang, membereskan kamar, muraja’ah, menghafal, atau sekedar berjalan di luar. Tapi waktu seolah berjalan begitu lambat. Dan akhirnya, tanpa interupsi dari otak, tanganku bergerak mendownload sebuah game dari playstore. Hm, *suddenly crying
Yaah..., meski main game bukan termasuk bagian dari sosial media, tapi aku merasa bersalah karena tidak konsisten. Aku menghapus game itu esok paginya ketika kami sudah diperbolehkan pulang. I hate you, Devil!
Aku sedikit merasa sedih dengan ujung ini, padahal hanya 3 hari. Biasanya orang akan melakukan social media detox dalam 30 hari bahkan lebih. Meski begitu, aku tidak menyesali apa-apa. Dengan melakukan kesalahan, kita jadi belajar bagaimana bisa bertahan di masa depan.
So, how I felt when finished a social media detox? Rasanya seperti memiliki energi lebih untuk mengerjakan banyak hal. Ketika kita berlarut dalam sosial media, pasti akan merasa kelelahan dan malas mengerjakan hal lain. Intinya, waktu kita jadi semakin berkah. Ada lebih banyak waktu untuk membaca Al-Qur’an, menambah hafalan, muraja’ah, muhasabah diri, tadabbur, dan menjalin silaturahim dengan orang-orang terdekat.
Social media detox bukan berarti kamu berhenti dari sosial media sepenuhnya. Tapi ini hanya latihan agar kamu tidak berlebihan bahkan kecanduan dalam memakainya. Karena seperti yang sudah aku sampaikan di atas, jika kita bijak menggunakannya, sosial media juga bisa kok memberi dampak positif. Tapi ingat, sepositif apapun kontennya, tidak berlebihan dalam menggunakan sosial media tetap lebih baik. Jadikan ia sumber inspirasi untuk melakukan tindakan positif yang nyata.
And you have remember it :
“Technology is a useful servant but a dangerous master.”-Christian Lous Lange
Sekian. Wassalaamu’alaikum!

Komentar